Home / National / Kisah Haru Perjuangan Pak Defi, Alami Luka Bakar di Sekujur Tubuhnya Namun Tetap Berusaha Nafkahi Anak dan Istrinya Walaupun Hanya Berjualan Tissue
kisah-haru-perjuangan-pak-defi,-alami-luka-bakar-di-sekujur-tubuhnya-namun-tetap-berusaha-nafkahi-anak-dan-istrinya-walaupun-hanya-berjualan-tissue

Kisah Haru Perjuangan Pak Defi, Alami Luka Bakar di Sekujur Tubuhnya Namun Tetap Berusaha Nafkahi Anak dan Istrinya Walaupun Hanya Berjualan Tissue

“Selama saya masih bisa berjalan dan bernafas, saya akan terus menjadi kepala keluarga yang baik untuk anak dan istri saya. Kalau di tengah kondisi ini saya memilih untuk diam di rumah, nanti mereka mau makan apa?”

Sedih bagaimana tidak kejadian naas yang yang membakar 70 % dari seluruh tubuhnya membuat ia divonis akan hidup hanya 5 hari saja. Namun Qodarullah Allah Berkehendak lain sampai saat ini Pak Defi masih hidup dan berjuang untuk keluarga.

Dengan tekad yang kuat Pak Defi berangkat dari Jambi ke Jakarta untuk melakukan operasi cangkok dagu sampai di Jakarta pun ia ditampung oleh lembaga sosial, Pak Defi tinggal di rumah singgah, namun karena adanya Pandemi Covid-19 Operasi pun harus ditunda, dan Rumah Singgah diPakai untuk isolasi Pasien covid, akhirnya Pak Defi mencari kontrakan dengan harga 600/bulan.

Pak Defi pun difasilitasi oleh lembaga tersebut kurang lebih 3 bulan lamanya selepas 3 bulan Pak Defi mulai kebingungan
karena lembaga tersebut sudah tak merespon Pak Defi lagi , selama tiga bulan proses operasi Pak Defi berhasil, namun Pak Defi harus tetap kontrol . Setelah selesai operasi dan sudah tidak di fasilitasi lagi Pak Defi mulai kesusahan.

Beruntung sang Istri selalu mengirim uang untuknya, “di Jambi Istri saya jualan kue basah Pak”, Saya disini gak mau diem aja kasian Istri saya harus berjuang sendirian untuk saya dan anak-anak.

Saat ini keadaan makin sulit , apapun sudah habis Pak Defi jual demi bertahan hidup dan menafkahi keluarga kecilnya. Hanya sekotak tisu dan beberapa permen serta obat-obatan yang tersisa pemberian dari lembaga tersebut. Tanpa putus harapan Pak Defi berinisiatif untuk berusaha, berikhtiar mencari nafkah dengan berjualan tisu keliling.

” Saya jualan tisu itu keliling pak, gak mau saya di lampu merah karena kesannya saya mengemis pak kalo di lampu merah dan saya gak mau mengemis, fisik saya cacat tapi hati saya tidak pak, lebih baik saya berjuang sendiri ketimbang saya ngemis “

About admin

Check Also

BRIN Teliti Pelestarian dan Warisan Budaya di IKN

Penajam, IDN Times – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meneliti pelestarian dan warisan budaya tak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *